Tuesday, June 9, 2020

Perubahan Nama P2, Kenapa Begitu?

Terkait dengan telah diundangkannya Permenpan 36/2020 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Penyelenggaran Urusan Pemerintahan Daerah, ada satu hal yang bagi Saya (yang kurang kerjaan), cukup membuat penasaran.  Bagi Sebagian (besar) orang, mungkin ini tidak terlalu menarik atau mungkin luput jadi perhatian walau tersadari.  Apakah itu? Ya, terkait perubahan nomenklatur nama jabatan fungsional ini.  Terdapat perubahan “sederhana” dengan terjadinya penghilangan kata “di” pada nomenklatur jabatan fungsional Pengawas Pemerintahan yang baru.  Dari yang awalnya bernama “Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah”, menjadi “Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Daerah”.

Kenapa dihilangkan kata “di” itu?  Apa urgensi penghilangan itu? Apakah berpengaruh (signifikan) terhadap sesuatu di dalamnya?  Ataukah ada sebuah konspirasi global dalam penghilangan kata “di” ini?  Akankah ini mempengaruhi tatanan dunia baru dalam era New Normal sekarang ini? Hmm.. Sungguh sangat membuat penasaran. Tega-teganya membuat mata ini tak mampu meredup lantas berangsur mentutup menuju ke alam mimpi.

Setelah ‘lama’ membolak-balik buku Undang-Undang Pemerintahan Daerah yang sudah lama dibeli, namun baru sekarang dijamah, ada sebuah pencerahan yang mungkin bisa menjadi penjelasan kenapa terjadi eliminasi kata “di” ini. Namun sebelum berlanjut, ada baiknya saya sampaikan disclaimer terlebih dahulu ya, bahwa semua yang ditulis di sini hanya opini pribadi berdasar penelurusan alakadarnya dengan alur logika yang kadang terinterupsi ketaklogisan, kadang dibumbui dengan ngarang yang bisa jadi terkategori hoax membangun.  Nah makanya, jika terjadi kesalahan pemahaman, mohon dimaklumi, jangan dibully, dan insya Allah akan diperbaiki di masa yang tepat. Oh iya, saya pun bukan apa-apanya tim perumus Permenpan ini ya, apalagi tim perumusnya.  Saya hanya buihan air di samudera lautan yang luas terhampar, yang menunggu angin akan menghempaskannya ke mana. Ceilee.. Oke lanjut.

Untuk memahami kenapa mesti dihilangkan kata “di” ini, ada baiknya kita menggunakan penalaran secara susunan prasa terlebih dahulu.  Kita akan memperbandingkan penempatan koma, untuk memahami perbedaan maksud dari kedua prasa ini. Untuk kemudian akan kita kupas prasa yang terpisah oleh tanda baca koma.

Nomenklatur dengan kata “di” pada Permenpan 15/2009 : “Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan (koma) di Daerah”, kita bandingkan maknanya dengan “Pengawas Penyelenggaran Urusan Pemerintahan Daerah”.  Maka akan didapat dua prasa berbeda antara nomenkatur lama dan baru, yaitu “Urusan Pemerintahan” dan “Urusan Pemerintahan Daerah”.

Berdasarkan BAB 1 Ketentuan Umum Pasal 1 nomor 5 UU 23/2014 dinyatakan bahwa “Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden yang pelaksanaannya dilakukan oleh kementerian negara dan penyelenggara Pemerintahan Daerah untuk melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.”. Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa penggunaan prasa “Urusan Pemerintahan” menjadi terlalu luas untuk menjadi wilayah kerja Pengawas Pemerintahan (P2).  Karena sama kita ketahui bahwa Urusan Pemerintahan meliputi 3, yaitu Urusan Pemerintahan Absolut, Konkuren dan Pemerintahan Umum.  Sedangkan wilayah kerja P2, terbatas pada Urusan Pemerintahan Konkuren yang notabene menjadi area otonomi daerah dan desentralisasi.  Walaupun ditambah prasa “di Daerah”, hanya memberi keterangan bahwa Urusan Pemerintahan itu dilakukan di daerah.

Sedangkan prasa “Urusan Pemerintahan Daerah” pada nomenklatur baru, menjadi lebih tajam serta langsung menukik ke Urusan Pemerintahan Konkuren.  Nomenklatur ini tidak ada penafsiran lain selain memang wilayah kerja P2 ada di Urusan Pemerintahan Konkuren.

Demikian.

Apakah memang ke situ maksud sebenarnya? Saya tak tahu juga.  Karena Saya lebih suka tempe. #apasih


Friday, March 11, 2016

Anda Wisatawan yang Perencana? Pakai Aplikasi Android Ini



Bismillah

“Berkunjung tuh seringkali lebih enak pergi saja dulu. Ke Bandung? Pergi dulu aja ke Bandung.  Kalau sudah sampai, kunjungi apa yang ada.”, seorang Kawan pernah berseloroh seperti itu. Tipe-nya sama persis dengan istri Saya. Makanya, ketika sepekan yang lalu istri mengajak Saya liburan ke Bukittinggi dengan dua krucil Kami, Saya interogasi dulu. Hueleh...

“Di Bukittinggi mau ngapain? Ke mana mau perginya kalau sudah di Bukittinggi? Ke Jam Gadang doang? Ke Kebun Binatang? Terus nginep di mana? Nginep di hotel? Kalau iya, hotelnya apa? Berapa tarifnya? Atau mau nginep di rumah Amak di Galuang Agam? Terus mau kulineran juga pastinya kan? Mau makan apa? Di mana yang khas dan recommended?”, cecar Saya.

Sementara istri menimpali, “Ya jalan-jalan aja ke mana kek kalau sudah di sana.”, simple. Hehehe..  Mungkin karena itu pulalah Kami berjodoh. Berbeda karakter, namun perbedaan itu untuk saling melengkapi.

Nah, kalau Anda punya karakter seperti Saya, yang harus jelas kalau wisata mau pergi ke mana spesifiknya, nggak sekedar global ke Bandung atau Bukittinggi saja, maka Anda perlu melakukan apa yang Saya lakukan. Apakah gerangan? Riset. Hah? Riset? Kayak mau susun tesis saja nih. Hahaha... Ya tidak mesti riset njlimet pakai kaidah research kayak penelitian ilmiah tentunya, tapi setidaknya kita punya bahan bayangan mau ke mana, ngapain aja, dan apa yang perlu dipersiapkan, dan apa yang bisa kita harapkan dari tujuan kita. Terdengarnya ribet ya?  Nggak juga sebetulnya, apalagi sekarang sudah zaman Smartphone, Bro and Sist! Sekali dua kali klik dan usap, sudah bisa terpampang kumpulan riset yang komprehensif terkait tujuan-tujuan wisata.  Mau luar negeri? Ada! Apalagi dalam negeri. Mudah betul. Tinggal install aplikasi yang berteberan di Google Play, maka sebagian besar dari unsur perencanaan wisata terlaksana sudah.

Belum punya smartphone-nya? Ya beli dong. Jangan harap Saya kasih ya. Hehehe.. Atau ikutan kompetisi kayak Saya dulu di MatahariMall. Hadiahnya Iphone 6s waktu itu. Hehe.. Ceritanya bisa disimak di blog Saya ini. Silakan cari ya. Hehe.. #Sok2an. Atau lebih mudahnya, ya beli saja. Hahaha..  Kita bisa mendapatkannya melalui MatahariMall (ehemm promosiin lagi nih. Heuheuy...). Apalagi katanya sekarang lagi diskonan tuh.  Buruan dan segera dapatkan diskon belanja online di sini jika tidak ingin ketinggalan promo menariknya. Smartphone baru dengan harga bersaing yang bikin ngiler siap beralih tangan. Siapin aja ATM yang bersaldo. Jangan sampai diceramahin ATM pas transfer karena saldo tidak mencukupi. Hahaha..

Sunday, February 7, 2016

Puncak Cemara Sawahlunto, Meresapi Landscape Kota Tua Kolonial Belanda

Bismillah

Anda penikmat wisata landscape? Maka spot wisata yang satu ini akan sangat cocok untuk Anda. Apalagi jika Anda adalah fotografer landscape.  Wah, bakalan cocok pisan. Rugi banget kalau melewatkan destinasi gratis yang teramat elok ini. Hamparan relief kota lama dengan bangunan tua dan pemukiman penduduk, akan sangat indah jadi objek foto Anda. Perbukitan di setiap pinggiran kota seakan menjadi frame alam yang menambah indah hasil foto yang dihasilkan. Hanya satu saja kekurangan tempat ini bagi para fotografer landscape.  Apa itu? Kita tidak bisa melihat sunset atau sunrise secara langsung.  Kita hanya bisa menangkap semburatnya dari balik perbukitan.  Namun sebetulnya tidak terlalu menjadi masalah walau memang menjadi kekurangan.  Soalnya terkompensasi dengan view lain yang sangat eye-catching berupa hamparan kota kuali Sawahlunto.  Mau ambil foto selfie pun sangat pas di sini. Saya lihat justru genre foto selfie ini yang mendominasi dari para pengunjung di sini.  Apalagi kalau sore sudah menjelang. Ramai bana.
Landscape Kota Sawahlunto dari Puncak Cemara