Sunday, November 29, 2015

Kopi dan Jus : Minuman yang Tertukar (Sebuah Misteri)



Bismillah

Pappi tea. Hasil jepretan istri.
“Ini coffelatte-nya,” Mbak Pelayan menghidangkan secangkir kopi di meja depan Saya. “dan ini jus alpukat tanpa susu.”, kali ini diletakkannya di depan istri Saya.  Kami, seperti biasa, hanya bisa tersenyum geli menyaksikan fragmen berulang seperti ini.  Hampir di semua tempat makan yang pernah Saya dan istri kunjungi, selalu kejadian ini terjadi.  Selalu.  Eh?  Emangnya kenapa?  Ada yang aneh?  Ada yang salah?  Ya, secara keumuman sih tidak ada yang aneh apalagi salah.  Malah teramat wajar dari kacamata ‘keseharusannya’ menurut kondisi sosial dan kebiasaan masyarakat sekarang.  Tapi dalam kasus Saya, ini menjadi sebuah kesalahan dalam penghidangan minuman.  Sebuah kesalahan yang jika diturutkan dipaksakan, akan berdampak berabe pada kelanjutan dan kelestarian makanan yang Saya telan dalam jangka waktu tak lama.  Loooh?  Maksudnya gimana?  Penasaran nih.  Huehehehee…  Percakapan imajiner lebay.  Apa yang sebenarnya terjadi?

Saturday, November 28, 2015

Untukmu Para Blogger Pikun



Bismillah

Saya berfikir keras mengingat kembali apa ide yang terlintas ketika tadi pagi tengah memandikan Zaid dan Qisthi.  Lupa.  Seriusan. Nggak boongan.  Haduh.. Gimana ini?  Hmmm... Ah, Saya memang pelupa.  Sebagaimana orang lain yang juga manusia, sering juga terlupa. #ngeles. Hehehe...

Ide memang tidak mengenal dan memilih tempat dan waktu untuk bertandang.  Bisa di mana saja, kapan saja, dari siapa saja. Tiba-tiba,  Ting..! Ide menghampiri.  Ting..! Ide yang lain datang menyambangi. Ting… Disusul ide yang lainnya. Dan seriring waktu berlalu, fikiran pun teralihkan pada yang lain.  Berselingkuh dengan fikiran-fikiran realita yang ada : pekerjaan, anak-anak, tagihan hutang (eh?) dan lain sebagainya.  Akhirnya, ide-ide yang berkunjung tadi pun luput dari ingatan.  Apa tadi tuh ya idenya? Loading…. loadingloading… Ujungnya nge-heng. Ujungnya mesti di-restart (baca : tidur. hehehe...) dulu.  Huwaduuuuh…  Begitulah Kita (Elo aja kali, To!). Seringkali lupa.  Masih terngiang nasehat seorang penulis dulu kala, setiap ada ide langsung ditulis (setidaknya idenya saja).  Karena manusia memang diciptakan dengan kemampuan melupakan hal-hal ‘kecil’ dan tak rutin teralami.  Penyakit seperti ini gawat bagi karir seorang penulis (Ehemmm? Maaf? Ga salah baca? #KucekMata) walau amatiran seperti Saya.

Solusinya?

Monday, November 23, 2015

Hati-Hati! Resiko Sarapan ala Minang

Bismillah

Lontong gulai paku. Sarapan Saya hari minggu kemarin :)
Lontong pical, gulai paku, gulai cubadak, gulai toco, gulai tunjang, sate, katupek pitalah.  Kemungkinan besar inilah deretan makanan khas Minang yang akan kita temui ketika kita berkeliling mencari makanan untuk sarapan di Sumatera Barat.  Memang sudah mulai banyak ekspansi makanan sarapan dari daerah lain, seperti Bubur Ayam Bandung atau Soto Lamongan, tapi rasanya kurang afdhol kalau berkunjung ke Ranah Minang malah sarapan dengan makanan yang bukan khas Minangkabau.  Apalagi kalau kunjungan kita hanya sekali-sekali saja.  Tapi walaupun begitu, khusus untuk sarapan, Kita juga harus mempertimbangkan resiko sarapan di sini.  Resiko? Loh loh? Emang ada resikonya?  Hehehe..

Sunday, November 22, 2015

Istano Basa Pagaruyung : Kebat-kebit Si Penakut Ketinggian



 “Qisthi ga bayar.  Kan masih 4 tahun.”, terang istri. Alhamdulillah… Hemat dah jadinya.  Hehehe… 

Yup.  Untuk masuk ke kawasan Istano Basa Pagaruyung di Batusangkar, pengunjung dipungut biaya tiket masuk sebesar Rp. 7.000 untuk dewasa, Rp. 5.000 untuk anak-anak (usia 5-12 tahun), dan untuk anak 4 tahun ke bawah gratis.  Makanya Qisthi dan Zaid free masuk ke kawasan Istano Pagaruyung ini.  Yang bayar Cuma Saya dan istri.  Total Rp. 14.000 aja.  Senangnyaaa…  Heuheuy...

Tampak Kanan
Alhamdulillah, setelah melalui perjalanan 2 jam dari Kota Solok, akhirnya Kami berempat, Saya istri dan kedua anak, sampai juga di kawasan Istano Basa Pagaruyung tepat jam 10.14 WIB. Ini adalah kali kedua Saya ke Istano ini.  Sebelumnya sekitar 3 tahun yang lampau, Saya dan istri serta Qisthi yang baru berumur 1 tahunan, pernah juga main ke sini.  Tapi waktu itu tidak sempat masuk ke dalam gedung Istano.  Soalnya sedang ada perbaikan atau entah apa.  Langit cerah, dan cuaca memang agak panas ketika Kami tiba.  Tapi ini adalah cuaca yang pas buat fotografer amatiran yang ngga ngerti setting DSLR seperti Saya.  Jadi bisa nge-sett pada Auto mode, ngga perlu otak-atik yang manualnya.  Cihuy deh.  Pencahayaan mendukung banget buat para amatiran.

Thursday, November 19, 2015

Tiba-tiba Gulita : Di Balik Kegelapan



Plek! Mati listrik.  Sekejap tak ada yang bisa dilihat.  Bahkan jemari pun tak terjangkau oleh indera mata.  Di antara kita, seringkali ada yang menanggapinya dengan panik.  Segera mencari sumber cahaya yang tersimpan entah di mana.  Di laci, atas lemari, atau tak tahu berada di sebelah mana. Lilin, korek api, handphone, senter atau yang lainnya.  Segera beranjak hingga terantuk meja, tersandung kursi.  Tak ada yang salah melakukannya, tapi untuk sesaat saja, coba menenangkan diri dan hati.  Gelap.  Ya, memang gelap.  Tapi yakinlah, gelap yang di awal kita merasakannya teramat gulita, ternyata tak sekelam kita rasa.  Tatkala kita mengizinkan mata kita berangsur mengadaptasi, walau teramat minim ternyata masih ada cahaya.  Namun cukuplah untuk sekedar mencari jalan di mana sumber cahaya yang lebih nyata berada.

Menghadapi masalah atau musibah seringkali sangat tepat jika ditamsilkan seperti kita dilingkupi gelapnya gulita yang tiba-tiba.  Seakan tak ada pegangan, entah apa yang mesti dilakukan. Yang penting bereaksi walau boleh sangat jadi reaksi kita hanya merugikan.  Seperti tiba-tibanya mati listrik di badan malam, begitu pula musibah atau masalah yang datang bagai gelombang pada kita.  Begitu terasa mendadak, walau kita sudah mengantisipasi dan menginsafinya sejak lama.  Tapi ketika ia telah sampai menyapa, hati mendefinisikannya dengan kata ‘semerta-merta’ atau ‘tiba-tiba’.  Tentunya ini karena betapa sangat tidak inginnya kita mengalami.  Lemas, tak berdaya, marah, sedih, penyesalan, semua terkombinasi dalam hati yang sedang mengiba.  Berat.  Ya, memang berat.  Tapi cobalah menenangkan diri sejenak.  Biarkan hati mengadaptasi kondisi yang telah dicipta Sang Ilahi.  Hingga beradaptasi, untuk kemudian mampu melihat cahaya walau sekedar secercah saja.  Tapi sudah teramat cukup untuk sekedar mengundang akal menjernih dan hati yang berangsur membening.

Wednesday, November 18, 2015

Panggilan Nama Unik di Ranah Minang

Zaid berfose. Hehehe...
Awalnya Saya heran kenapa adiknya istri memanggil dengan panggilan Nia ke kakak perempuan yang jadi istri Saya ini. Nia?  Dari mana asal usul panggilan Nia ini? Nama istri Saya Khairia, panggilan kecilnya Iya atau Ria.  Kok bisa jadi Nia?  Apakah ini nama selebnya ketika dulu?  Mungkin saja.  Namun setelah agak lama, barulah Saya tahu bahwa panggilan Nia ini adalah singkatan dari Uni Ria, jadi Nia. Hoooo…. #AkibatLoadingLambat.  Uni berarti kakak perempuan dalam bahasa Minang, dan Iya atau Ria adalah nama panggilan kecilnya.

Cerita Bullying Anak TK

Bismillah

"Qisthi ga mau sekolah...!", kali ini sembari menangis sejadi-jadinya.  Tersedu-sedu, berurai air mata.  Terus saja bersikukuh tak mau berangkat sekolah.  Mogok sekolah.  Seperti inilah awalan fragmen di sebuah pagi yang bergelayut mendung.


"Kenapa Qisthi ga mau sekolah?", tanya Saya untuk kesekian kalinya.  Dan untuk kesekian kalinya pula dijawab dengan menangis dan mengulang lagi kalimat, "Qisthi ga mau sekolah.".  Dibujuk dengan akan dibelikan jajan sepulang dari sekolah di swalayan langganan, tetap tak mau juga berangkat sekolah.  Jajannya yang malah ingat terus dan ditagih tak kenal lelah. Walah...?

Qisthi di hari pertama sekolah TK
Masih teringat ketika awal dibukanya pendaftaran TK di awal Agustus kemarin, Qisthi teramat semangat memaksa Saya dan Bundanya untuk mendaftar.  Dalam hampir setiap kesempatan, anak gadis Kami ini menggendong tas ransel boneka gajahnya ke mana-mana.  Diisinya dengan berbagai buku yang ditemukan, pensil, daun-daunan, dan entah apa lagi.  Pas ditanya mau ke mana, jawabnya "Mau sekolah.".  Antusias sekali.  Bahkan tak lelah selalu mengingatkan Saya dan Bundanya untuk tidak lupa membelikannya sepatu dan kaos kaki untuk sekolah.  Ketika awal melihat calon TK-nya, bisa terlihat matanya berbinar.  Menengok kelas yang dipenuhi warna-warni di dinding, meja-meja belajar beserta kursi mungilnya, loker tas yang berderet, serta mainan-mainan edukatif di kelasnya.

Monday, November 16, 2015

Memulai Sebuah Pilihan

Setelah searching perbandingan antara Blogger dan Wordpress, akhirnya Saya menetapkan untuk membuat rumah maya Saya di Blogger ini.  Sebetulnya, hasil dari searching sebelumnya, posisi kemenangan ada di tangan Wordpress.  Tapi satu saja (setidaknya untuk saat ini) yang membuat Blogger menang dari Wordpress di hati Saya : loading-nya cepat, karena domain lokal.  Itu saja.  Selebihnya tidak ada.

Bismillah.  Saya mulai lagi nge-blog.  Semoga bisa konsisten.